HUT RI Ke 80

28 Titik Panas Terpantau di Aceh, BMKG Peringatkan Potensi Karhutla Jelang Musim Kemarau

Visual satelit menunjukkan sebaran titik panas (hotspot) di Aceh per 20 Juni 2025. BMKG imbau masyarakat waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan. (Foto: Dok. BMKG).

INISIATIF.CO, Takengon – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Provinsi Aceh mengeluarkan peringatan dini terkait potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) setelah mendeteksi 28 titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah Aceh, Jumat (20/6/2025).

Titik-titik panas ini tersebar di berbagai kabupaten/kota, mulai dari pesisir barat hingga kawasan tengah pegunungan Gayo.

Informasi tersebut disampaikan Prakirawan BMKG Aceh, Betsi, dalam siaran Info Cuaca RRI Takengon edisi Jumat pagi. Menurutnya, kemunculan titik panas ini harus menjadi perhatian serius masyarakat dan pemerintah daerah, terutama menjelang masuknya musim kemarau.

“Kami menghimbau masyarakat agar tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan, terutama di area lahan terbuka yang kering, serta ikut berperan dalam mengantisipasi penyebab kebakaran,” ujar Betsi.

Sebaran Titik Panas

BMKG mencatat, hotspot ditemukan di sejumlah wilayah, termasuk: Aceh Besar, Aceh Jaya, Aceh Singkil, Subulussalam. Kemudian di wilayah tengah Aceh, titik panas terdapat di Aceh Tengah (meliputi Kecamatan Lut Tawar, Silih Nara, dan Linge),  Gayo Lues (khususnya di Kecamatan Blang Jerango dan Terangun), dan Aceh Tenggara  (titik panas terpantau di Kecamatan Lawe Alas).

Sebaran ini mengindikasikan meningkatnya potensi karhutla di daerah-daerah dengan ekosistem hutan yang luas dan kondisi lahan yang mulai mengering.

BMKG menilai keberadaan hotspot ini sebagai sinyal awal kemungkinan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Penyebab utama biasanya adalah aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan dengan cara membakar serta pembakaran sampah yang tidak terkendali.

Betsi menambahkan, kebakaran tidak hanya menyebabkan kerusakan lingkungan, tetapi juga berisiko tinggi terhadap penurunan kualitas udara, gangguan kesehatan masyarakat, dan terganggunya aktivitas harian.

Melalui siarannya, RRI Takengon dan BMKG kembali mengajak seluruh warga Aceh untuk meningkatkan kewaspadaan dan menjaga lingkungan. Partisipasi masyarakat dinilai krusial dalam mencegah bencana ekologis seperti karhutla.

BMKG juga mengimbau masyarakat untuk terus mengikuti perkembangan prakiraan cuaca dan peringatan dini dari sumber resmi. Bila menemukan indikasi awal kebakaran, masyarakat diminta segera melaporkan kepada pihak berwenang atau tim pemadam kebakaran terdekat.[]

Editor : Ikbal Fanika
inisiatifberdampak
Tutup