ADVERTISEMENT

Kebutuhan Solar Nelayan Abdya Capai 140 Ton per Bulan, Kuota SPBN Baru 80 Ton

Kepala Kantor DKP Aceh PPI Ujong Serangga, Ari Gunawan. [Foto: Dokpri].
Ringkasan Berita
  • Kebutuhan solar nelayan Abdya mencapai sekitar 140 ton per bulan, sementara jatah SPBN koperasi nelayan baru 80 ton, menyisakan kekurangan sekitar 60 ton.
  • Untuk menutup kekurangan, PPI Ujong Serangga menerapkan skema rekomendasi pengambilan solar ke SPBU Pante Pirak dengan pengawasan ketat.
  • Keterbatasan pasokan BBM berisiko menghambat aktivitas melaut ratusan kapal nelayan dan berdampak pada ekonomi pesisir serta stabilitas pasokan ikan.

Inisiatif Logo, Blangpidie – Kebutuhan bahan bakar minyak (BBM) jenis solar untuk nelayan di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) mencapai sekitar 140 ton per bulan. Namun, pasokan BBM bersubsidi yang tersedia melalui Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN) saat ini dinilai belum mampu memenuhi kebutuhan tersebut secara optimal.

SPBN milik koperasi nelayan di Abdya hingga kini hanya memperoleh jatah 80 ton solar per bulan. Kondisi ini memunculkan kesenjangan pasokan yang cukup besar dan berdampak langsung pada aktivitas melaut ratusan kapal nelayan di wilayah pesisir.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Aceh melalui Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI) Ujong Serangga, jumlah armada nelayan di Abdya tercatat 295 unit kapal. Dari jumlah tersebut, 285 kapal berukuran di bawah 30 Gross Ton (GT) merupakan penerima BBM bersubsidi, sementara 10 kapal lainnya menggunakan BBM non-subsidi.

Besarnya jumlah armada menjadikan solar sebagai kebutuhan vital bagi keberlangsungan sektor perikanan tangkap. Keterbatasan pasokan berisiko membuat nelayan mengurangi frekuensi melaut, bahkan menghentikan sementara operasional kapal.

ADVERTISEMENT

Untuk menutup kekurangan tersebut, PPI Ujong Serangga mengambil langkah alternatif dengan menerbitkan rekomendasi pengambilan solar ke SPBU Pante Pirak. Skema ini diterapkan sebagai solusi sementara di tengah keterbatasan kapasitas SPBN koperasi nelayan.

SPBU Pante Pirak diketahui mampu menyalurkan hingga 1 ton solar per hari. Apabila pasokan BBM yang diterima SPBU mencapai 16 ton, PPI Ujong Serangga dapat mengeluarkan dua rekomendasi pengambilan dalam sehari. Namun, jika pasokan berada di bawah angka tersebut, rekomendasi yang diterbitkan hanya satu kali per hari.

ADVERTISEMENT

Kepala Kantor DKP Aceh PPI Ujong Serangga, Ari Gunawan, mengatakan mekanisme rekomendasi menjadi langkah paling memungkinkan saat ini untuk menjaga ketersediaan solar bagi nelayan.

“Selama jatah SPBN di Komplek PPI Ujong Serangga masih 80 ton per bulan, kami tetap mengeluarkan rekomendasi ke SPBU Pante Pirak agar nelayan mendapatkan tambahan solar. Jumlah rekomendasi disesuaikan dengan pasokan BBM yang masuk ke SPBU,” kata Ari pada awak media. Selasa (27/1/2026)

Ia menegaskan, distribusi solar melalui rekomendasi dilakukan dengan pengawasan ketat untuk memastikan BBM digunakan sesuai peruntukan dan tidak disalahgunakan.

ADVERTISEMENT

Meski demikian, kebutuhan ideal solar nelayan Abdya masih belum terpenuhi sepenuhnya. Dengan kebutuhan mencapai 140 ton per bulan, terdapat selisih sekitar 60 ton dari jatah resmi SPBN yang tersedia.

Kondisi ini dinilai rawan menimbulkan hambatan operasional, terutama saat musim melaut meningkat dan permintaan BBM melonjak. Nelayan kerap harus menunggu giliran atau menyesuaikan jadwal keberangkatan akibat keterbatasan stok.

Sejumlah pihak menilai penambahan SPBN baru dengan kapasitas lebih besar menjadi kebutuhan mendesak di Kabupaten Aceh Barat Daya. Kehadiran fasilitas tambahan dinilai dapat mengurangi ketergantungan pada SPBU umum serta mempercepat distribusi BBM bersubsidi.

Ari Gunawan menyebutkan, penambahan kapasitas SPBN akan sangat membantu nelayan dalam jangka panjang.

“Jika ada SPBN dengan daya tampung lebih besar, distribusi solar bisa lebih stabil dan nelayan tidak perlu lagi bergantung pada rekomendasi harian,” katanya.

Sektor perikanan tangkap sendiri menjadi salah satu penopang utama ekonomi masyarakat pesisir Abdya. Kelancaran pasokan BBM berpengaruh langsung terhadap hasil tangkapan, pendapatan nelayan, hingga stabilitas harga ikan di pasar lokal.

Ketika pasokan solar tersendat, biaya operasional meningkat dan waktu melaut menjadi terbatas. Dampaknya dapat merambat hingga ke rantai distribusi hasil perikanan, termasuk pemenuhan pasokan ikan untuk program nasional Menu Bergizi Gratis (MBG).

Nelayan pun berharap pemerintah pusat dan daerah segera merespons kondisi tersebut melalui penambahan kuota BBM bersubsidi atau pembangunan SPBN baru.

Sementara itu, PPI Ujong Serangga memastikan akan terus menjalankan fungsi pelayanan dan pengawasan agar distribusi solar tetap berjalan sesuai ketentuan.

“Kami berupaya semaksimal mungkin agar nelayan tetap bisa melaut dan aktivitas perikanan tidak terhenti,” tutup Ari Gunawan.[]

Editor : Yurisman
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
inisiatifberdampak
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
Tutup