Karhutla Hanguskan 15 Hektare Lahan di Aceh Barat, Satu Sekolah Terpaksa Diliburkan
- Kebakaran hutan dan lahan di Aceh Barat menghanguskan sekitar 15 hektare lahan yang tersebar di Kecamatan Johan Pahlawan, Woyla, dan Meureubo.
- BPBD Aceh Barat bersama TNI-Polri dan unsur terkait terus melakukan pemadaman dan pengendalian, meski terkendala angin kencang dan keterbatasan air.
- Dampak asap menyebabkan satu sekolah dasar di Gampong Suak Raya terpaksa diliburkan sementara demi keselamatan siswa.
, Meulaboh — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Aceh Barat. Hingga Jumat, 23 Januari 2026 pukul 17.00 WIB, total luas lahan yang terdampak kebakaran diperkirakan mencapai sekitar 15 hektare, tersebar di tiga kecamatan, yakni Johan Pahlawan, Woyla, dan Meureubo.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Barat, T. Ronald Nehdiansyah, mengatakan karhutla terjadi di beberapa gampong, di antaranya Gampong Lapang, Suak Raya, dan Suak Nie di Kecamatan Johan Pahlawan, Gampong Aron Baroh di Kecamatan Woyla, serta Gampong Alue Peunyareng di Kecamatan Meureubo.
“Laporan pertama kami terima pada Kamis, 15 Januari 2026 sekitar pukul 15.45 WIB dari masyarakat terkait karhutla di Gampong Lapang, tepatnya di Jalan Ujong Beurasok, dengan dua titik api terpantau,” kata Ronald, Jumat.
Perkembangan selanjutnya, BPBD kembali menerima laporan kebakaran lahan pada Jumat, 23 Januari 2026, masing-masing di Gampong Aron Baroh, Kecamatan Woyla, serta di sekitar area kampus STAIN yang berada di Gampong Alue Peunyareng, Kecamatan Meureubo.
Menindaklanjuti laporan tersebut, BPBD Aceh Barat melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) langsung menerjunkan tim ke lokasi untuk melakukan pemantauan, analisis situasi, serta upaya pemadaman dan pengendalian agar api tidak meluas ke area lain.
“Penanganan kami lakukan secara bertahap sejak pertengahan Januari, melibatkan berbagai unsur seperti TNI, Polri, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), serta masyarakat setempat,” ujarnya.
Upaya pemadaman dilakukan dengan metode pemotongan jalur rambatan api, pendinginan area terdampak, serta pengawasan intensif di sejumlah titik rawan. Selain itu, BPBD juga membagikan masker kepada warga dan sekolah yang terdampak asap kebakaran.
Dampak karhutla ini tidak hanya merusak vegetasi, tetapi juga menimbulkan gangguan kualitas udara. Akibat kondisi asap yang cukup pekat, satu sekolah dasar, yakni SD Suak Raya, terpaksa diliburkan sementara demi menjaga kesehatan peserta didik.
Hingga Jumat sore, BPBD mencatat sejumlah titik api telah berhasil ditangani. Di Gampong Lapang dan Suak Raya masing-masing sekitar 3 hektare lahan berhasil dikendalikan, Gampong Suak Nie sekitar 1 hektare, wilayah Meureubo sekitar 0,8 hektare, serta Aron Baroh seluas 0,5 hektare dengan kondisi api padam 100 persen. Total lahan yang telah tertangani mencapai sekitar 8,3 hektare.
“Penanganan karhutla saat ini masih dalam tahap pengendalian. Kendala utama di lapangan adalah angin kencang dan keterbatasan sumber air,” jelas Ronald.
Dalam operasi penanggulangan ini, BPBD Aceh Barat mengerahkan berbagai sarana pendukung, antara lain dua unit drone untuk pemantauan udara, kendaraan operasional, mesin pompa air, selang, serta satu unit ATV. Unsur yang terlibat meliputi BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran, TNI-Polri, KPH, dan masyarakat.
BPBD Aceh Barat mengimbau masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan jika menemukan titik api, guna mencegah kebakaran meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.[]
