Harga CPO Global Naik, DPRK Abdya Minta Penyesuaian Harga TBS Petani Sawit
- Harga CPO global menguat hingga sekitar Rp14.900 per kilogram, namun harga tandan buah segar (TBS) petani sawit di Abdya masih stagnan di kisaran Rp2.500 per kilogram.
- Anggota DPRK Abdya dari PKB, Muhibpudin, menilai kondisi tersebut menunjukkan ketimpangan rantai harga dan lemahnya posisi tawar petani sawit.
- DPRK Abdya mendorong penyesuaian harga TBS yang lebih adil serta peningkatan pengawasan dan transparansi penetapan harga oleh pemerintah daerah.
, Blangpidie – Lonjakan harga Crude Palm Oil (CPO) di pasar internasional belum berbanding lurus dengan pendapatan petani sawit di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya). Di tengah menguatnya harga CPO, nilai jual tandan buah segar (TBS) di tingkat petani justru masih belum bergerak signifikan.
Kondisi tersebut mendapat perhatian serius anggota DPRK Abdya dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Muhibpudin. Ia menilai, harga TBS yang bertahan di kisaran Rp2.500 per kilogram tidak mencerminkan realitas pasar sawit global yang saat ini sedang menguat.
“Di saat harga CPO sudah berada di kisaran Rp14.900 per kilogram, petani justru belum merasakan dampak positifnya. Ini menunjukkan ada ketimpangan dalam rantai harga sawit,” kata Muhibpudin, Rabu (28/1/2026).
Menurutnya, situasi tersebut kembali menegaskan lemahnya posisi tawar petani sawit dalam struktur industri. Ia menyebut, petani kerap menjadi pihak yang paling cepat merasakan dampak ketika harga CPO melemah, namun justru tertinggal saat harga mengalami kenaikan.
Muhibpudin menilai, dengan harga CPO saat ini, sudah sepatutnya harga TBS di tingkat petani ikut disesuaikan secara proporsional. Ia memperkirakan harga yang lebih wajar berada di kisaran Rp3.000 per kilogram agar mencerminkan nilai ekonomi komoditas sawit secara adil.
Ia juga mengingatkan perusahaan dan pabrik kelapa sawit agar tidak memanfaatkan dominasi mereka dalam menentukan harga beli TBS. Menurutnya, keberlangsungan industri sawit tidak dapat dilepaskan dari peran petani sebagai pemasok utama bahan baku.
“Petani adalah fondasi industri sawit. Tanpa mereka, pabrik tidak akan berjalan. Karena itu, hubungan antara petani dan industri harus dibangun atas prinsip keadilan,” ujarnya.
Lebih lanjut, Muhibpudin mendorong pemerintah daerah bersama instansi terkait untuk meningkatkan pengawasan terhadap sistem penetapan harga TBS. Transparansi dinilai penting agar fluktuasi harga CPO di pasar global dapat berdampak langsung terhadap kesejahteraan petani di daerah.
Ia berharap, ke depan ada langkah nyata untuk memperbaiki tata niaga sawit di Abdya, sehingga petani tidak terus berada pada posisi paling rentan dalam mata rantai industri kelapa sawit.[]
