Dinas Pertanian Abdya Perkuat Petani Lokal untuk Pasok Dapur MBG
- Dinas Pertanian Abdya membentuk dan membina sembilan kelompok tani mandiri di sembilan kecamatan sebagai pemasok sayur-mayur lokal untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Pembinaan mencakup budidaya, manajemen usaha tani, pola tanam terjadwal, hingga standar kualitas pangan guna menjamin suplai berkelanjutan.
- Skema kemitraan petani dengan dapur MBG diharapkan memperpendek rantai distribusi, meningkatkan pendapatan petani, dan menggerakkan ekonomi desa.
, Blangpidie — Dinas Pertanian Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) terus memperkuat daya saing pemasok lokal, khususnya komoditas sayur-mayur, untuk memenuhi kebutuhan Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) sekaligus kebutuhan masyarakat secara umum.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam menghubungkan petani dengan pasar yang berkelanjutan, sekaligus memastikan ketersediaan bahan pangan segar dari wilayah sendiri.
Kepala Dinas Pertanian Abdya, Hendri Yadi, mengatakan pihaknya telah membentuk kelompok tani binaan yang bersifat mandiri dan berorientasi pada peningkatan kapasitas produksi. Pemerintah daerah, lanjutnya, juga menyiapkan dukungan anggaran bagi kelompok yang telah memenuhi persyaratan administrasi sesuai ketentuan.
“Saat ini kami menerapkan skema satu kecamatan satu kelompok tani binaan. Aceh Barat Daya memiliki sembilan kecamatan, artinya sudah ada sembilan kelompok aktif yang berada dalam pendampingan langsung dinas teknis,” ujar Hendri, Selasa (27/1/2026).
Menurut Hendri, jumlah kelompok tani binaan tersebut masih akan terus ditambah seiring meningkatnya kebutuhan dan potensi produksi daerah. “Kelompok ini tidak berhenti di sembilan saja. Kami akan terus mendorong pembentukan kelompok baru agar kapasitas produksi pertanian semakin kuat,” katanya.
Ia menjelaskan, pembinaan yang dilakukan tidak hanya menyasar aspek budidaya, tetapi juga manajemen usaha tani, perencanaan tanam, hingga pemenuhan standar kualitas pangan. Pendekatan tersebut dinilai penting agar petani mampu memenuhi kebutuhan dapur MBG secara konsisten dan berkelanjutan.
Setiap kelompok tani yang aktif dan memenuhi kriteria, lanjut Hendri, berhak mengajukan dukungan sesuai kebutuhan lapangan. Fokus utama saat ini diarahkan pada komoditas hortikultura seperti gambas, kacang panjang, dan berbagai jenis sayuran yang menjadi bahan utama menu sehat program MBG.
“Ketersediaan bahan segar dari wilayah sendiri akan menekan biaya distribusi sekaligus menjaga kualitas pangan,” ujarnya.
Hendri menilai petani lokal memiliki potensi besar untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG apabila mendapatkan pendampingan yang tepat. Karena itu, dinas mendorong penerapan pola tanam terjadwal agar suplai bahan pangan tetap stabil sepanjang tahun.
Selain pembinaan, Dinas Pertanian Abdya juga berperan sebagai penghubung antara kelompok tani dan pengelola dapur MBG. Skema kemitraan ini diharapkan mampu menciptakan kepastian pasar bagi petani sekaligus menjamin ketersediaan bahan baku bagi penyedia makanan.
“Melalui koordinasi lintas sektor, kami ingin memastikan hasil panen terserap langsung tanpa melalui rantai distribusi yang panjang. Ini berdampak langsung pada peningkatan pendapatan petani dan penguatan ekonomi desa,” jelas Hendri.
Ia menambahkan, program MBG tidak hanya berorientasi pada pemenuhan gizi, tetapi juga memiliki dampak signifikan terhadap pergerakan ekonomi daerah. Dengan memaksimalkan sumber daya lokal, pemerintah daerah berupaya menciptakan sirkulasi ekonomi yang sehat di tingkat kabupaten.
“Keterlibatan petani lokal dalam program nasional ini menjadi peluang besar untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan,” katanya.
Ke depan, Dinas Pertanian Abdya menargetkan pembentukan kelompok tani baru di setiap kecamatan sesuai potensi wilayah. Pendamping lapangan juga disiapkan untuk membantu petani menghadapi tantangan teknis, mulai dari pengendalian hama hingga efisiensi sarana produksi.
“Kami ingin petani benar-benar siap menjadi pemasok utama dapur MBG, bukan hanya hari ini, tetapi juga untuk jangka panjang,” tegas Hendri.
Melalui penguatan kapasitas petani dan optimalisasi kelompok binaan, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya menargetkan ketahanan pangan yang lebih mandiri. Kolaborasi antara petani dan program MBG pun dinilai sebagai model pembangunan pertanian yang inklusif sekaligus mendukung program strategis nasional berbasis potensi lokal.[]
