Sebut Bantuan Malaysia untuk Aceh Tak Seberapa, Mendagri Tito Akhirnya Minta Maaf
, Jakarta — Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menegaskan dirinya tidak pernah berniat meremehkan bantuan maupun dukungan yang diberikan warga dan Pemerintah Malaysia kepada korban bencana di Aceh.
Klarifikasi itu disampaikan Tito menyusul polemik yang berkembang setelah pernyataannya dikritik oleh mantan Menteri Luar Negeri Malaysia, Tan Sri Rais Yatim.
Pernyataan klarifikasi tersebut disampaikan Tito di Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (20/12/2025). Ia menyebut komentarnya sebelumnya kemungkinan disalahartikan oleh publik.
“Pernyataan saya kemarin mungkin disalahpahami. Saya sama sekali tidak bermaksud untuk mengecilkan bantuan, dukungan dari warga Malaysia kepada Aceh, tidak, sama sekali tidak bermaksud itu,” kata Tito seperti dikutip Antara.
Tito juga secara terbuka menyampaikan permohonan maaf apabila ucapannya menimbulkan kesan negatif, khususnya di kalangan masyarakat Malaysia.
“Saya sama sekali tidak bermaksud mengecilkan bantuan dan dukungan dari saudara-saudara kita di Malaysia. Kalau ada yang salah paham, saya minta maaf,” ujarnya.
Ia menegaskan, hubungan personal dan profesionalnya dengan Malaysia telah terjalin sangat panjang dan erat. Kerja sama itu dimulai sejak dirinya masih aktif di kepolisian, terlibat dalam kerja sama pascabom Bali, bertugas di Densus 88, menjabat Kapolri, hingga kini sebagai Mendagri.
Menurut Tito, hubungan baik tersebut juga terjalin dengan sejumlah pejabat tinggi Malaysia, mulai dari Menteri Dalam Negeri Saifuddin Nasution, Menteri Luar Negeri, hingga Perdana Menteri Malaysia.
Lebih lanjut, Tito menjelaskan bahwa inti pernyataannya bukan untuk membandingkan atau mengurangi arti bantuan luar negeri. Ia hanya ingin agar kerja besar Pemerintah Indonesia, baik pusat maupun daerah, juga mendapat apresiasi yang seimbang.
Ia menekankan bahwa sejak hari-hari awal bencana, pemerintah telah bergerak cepat. Tito bahkan turun langsung ke Aceh pada 29 November 2025 untuk meninjau lokasi terdampak di Banda Aceh, Pidie, Pidie Jaya, hingga Lhokseumawe.
Kunjungan tersebut dilakukan untuk menyalurkan bantuan sekaligus mengoordinasikan langkah lintas sektor bersama TNI, Polri, BNPB, Basarnas, serta pemerintah daerah.
“Banyak sekali yang sudah dikerjakan sejak hari pertama, hanya memang tidak semuanya terekam media,” ujarnya.
Tito juga memaparkan berbagai upaya pemerintah pusat, mulai dari penyaluran ratusan ton beras dari Bulog, mobilisasi helikopter, kapal, dan pesawat atas arahan Presiden, hingga percepatan dukungan anggaran bagi daerah yang kekurangan dana operasional.
Meski demikian, Tito menegaskan apresiasi terhadap bantuan dari luar negeri, termasuk dari Malaysia, tetap sangat tinggi. Ia menyebut Malaysia memiliki ikatan emosional yang kuat dengan Aceh sebagai wilayah serumpun dan memiliki diaspora Aceh yang besar.
Namun, ia mengingatkan agar kerja keras aparat negara, relawan, dan donatur dalam negeri tidak terpinggirkan oleh narasi pemberitaan yang timpang.
“Yang saya maksud, tolong juga dihargai upaya pemerintah pusat, pemerintah daerah, relawan, dan donatur dalam negeri yang bekerja luar biasa, meski sering tidak terekspos,” katanya.
Di akhir pernyataannya, Tito kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga hubungan baik Indonesia–Malaysia.
“Penekanan saya itu cuma satu sebetulnya, tolong, yang di dalam negeri juga dihargai, kira-kira gitu,” ucapnya.
Sebelumnya, dalam sebuah unggahan media sosial, Tito menyebut nilai bantuan kemanusiaan dari Malaysia untuk Aceh berkisar Rp1 miliar.
“Nilainya nggak sampai Rp1 miliar, kalau sampai Rp1 miliar kita cukup punya anggaran jauh dari itu, mungkin anggarannya tidak seberapa dibandingkan kemampuan kita lebih dari itu,” katanya.
Pernyataan tersebut kemudian memicu kritik dari Tan Sri Rais Yatim yang menyoroti etika diplomasi dan narasi bantuan luar negeri, sehingga memicu diskusi publik di kedua negara.[]
