Program Makan Gizi Gratis Jadi Agregator Penyerapan Produksi Pangan Nasional
“Hari ini harus pakai teknologi, harus diperbanyak dryer. Jangan ambil risiko, karena nanti produksinya banyak, terus kemudian kualitas gabahnya malah turun. Nanti produktivitasnya jadi rendah karena rendemennya rendah. Padahal ada program MBG dan Bulog sekarang sudah jadi standby buyer. Jadi saat ini pemerintah itu sudah siapkan solusi di hilir perberasan,” uangkap Arief.
Arief Prasetyo Adi juga menyoroti harga daging ruminansia yang disebutnya perlu diperhatikan kembali. Menurutnya, akibat kasus Penyakit Mulut dan Kulit (PMK) menyebabkan harga daging di pasaran menurun.
“Harga daging harusnya sekitar Rp 120-130 ribu, batas atasnya kan Rp 140 ribu. Kemarin itu ada penurunan harga daging karena case PMK. Jadi sekarang harga sudah mulai naik lagi. Ini berita baik bagi peternak kita. Semangat kita tentu adalah membangun produksi pangan dari hasil jerih payah sendiri,” ujarnya.
Cadangan Pangan Pemerintah (CPP) dalam bentuk daging ruminansia pun terbilang cukup baik. Per akhir Februari kemarin, stok daging kerbau total ada 39 ribu ton. Sementara CPP dalam bentuk daging sapi di angka 4 ribu ton. Daging kerbau sendiri oleh BUMN pangan mulai digelontorkan ke masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau.
Selanjutnya, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dalam pernyataannya ke insan pers, melontarkan harapannya agar program MBG dapat dikebut mulai Maret ini. “(MBG) diperkirakan Maret akan dilaksanakan, mungkin per bulan bisa menyerap anggaran sampai Rp 1 (sampai) 2 triliun. Urusan anggaran baru selesai,” paparnya.
“Oleh karena itu, perlu kita siapkan rantai pasok karena butuhnya besar sekali, karena Maret ini akan berkali-kali lebih besar, bahkan nanti tentu sampai akhir tahun akan 82,9 juta penerima manfaat. Kalau sampai 82,9 juta, itu beras saja (butuh) 4 juta ton. Mudah-mudahan program ini mulai Maret akan lari dengan kencang,” pungkas Menko Pangan.[]