Prof Syamsul Rijal: Kampus Bukan Sekadar Pabrik Ijazah, Lulusan Harus Punya Tanggung Jawab Sosial

Prof Syamsul Rijal, M.Ag. [Foto: Dokpri].
Ringkasan Berita
  • Prof Syamsul Rijal menegaskan kampus tidak boleh hanya menjadi tempat mencetak ijazah, tetapi harus melahirkan lulusan yang berintegritas dan memiliki tanggung jawab sosial.
  • Dalam orasi ilmiah Wisuda STKIP Usman Safri Kutacane, ia menekankan pentingnya budaya akademik sehat, riset berbasis data, serta integrasi ilmu pengetahuan dengan nilai etika dan spiritual.
  • Wisuda tahun akademik 2025/2026 meluluskan 87 mahasiswa, dan pemerintah daerah mengapresiasi kontribusi STKIP dalam meningkatkan kualitas SDM Aceh Tenggara.

Inisiatif Logo, Kutacane — Ketua Program Studi S3 Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr H Syamsul Rijal BA MAg menegaskan bahwa kampus tidak boleh dipahami semata sebagai tempat mencetak ijazah.

Pendidikan, menurut dia, harus melahirkan tanggung jawab sosial, integritas intelektual, serta keberanian lulusan untuk menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Syamsul Rijal dalam orasi ilmiah pada Wisuda Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Usman Safri Kutacane, Aceh Tenggara, Sabtu (17/1/2026).

Di hadapan sivitas akademika, orang tua wisudawan, serta para tamu undangan, ia menekankan bahwa esensi pendidikan tidak berhenti pada capaian akademik formal semata.

Syamsul Rijal, yang merupakan putra asli Aceh Tenggara, menyebut pendidikan sejatinya adalah proses panjang pembentukan karakter, cara berpikir kritis, serta integritas moral dan intelektual. Ia menilai lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus peka terhadap persoalan sosial di sekitarnya.

“Pendidikan harus membekali manusia dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Dari situlah lahir prestasi pribadi sekaligus kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujar Syamsul Rijal.

Menurut dia, gelar akademik hanya akan bermakna jika disertai dengan kesadaran etis dan tanggung jawab sosial. Lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu membaca persoalan di lingkungannya serta berperan aktif dalam mencari solusi, bukan justru menjauh dari realitas sosial.

Dalam orasinya, Syamsul Rijal juga menyoroti pentingnya membangun budaya akademik yang sehat di lingkungan kampus. Ia menekankan perlunya tradisi membaca yang kuat, riset berbasis data, serta sikap rendah hati secara intelektual sebagai fondasi utama kehidupan akademik.

Ia mengingatkan bahwa budaya merasa paling tahu tanpa kompetensi dan riset yang memadai berpotensi merusak iklim akademik. Kampus, menurutnya, seharusnya menjadi ruang dialog ilmiah yang terbuka, bukan tempat reproduksi klaim kebenaran tanpa dasar keilmuan.

“Kampus harus menjadi ruang lahirnya pemikiran kritis, bukan sekadar tempat mengumpulkan ijazah,” katanya.

Lebih lanjut, Syamsul Rijal mendorong integrasi antara ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai etika dan spiritual. Integrasi tersebut dinilai penting sebagai fondasi dalam membangun peradaban yang berkeadaban, terutama di tengah tantangan global yang semakin kompleks.

Menurut dia, pendidikan memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang adaptif terhadap perubahan global, namun tetap berakar kuat pada nilai moral, budaya, dan kearifan lokal. Tanpa fondasi etika dan spiritual, kemajuan ilmu pengetahuan berisiko kehilangan arah.

Wisuda STKIP Usman Safri Kutacane tahun akademik 2025/2026 ini meluluskan 87 mahasiswa. Dari jumlah tersebut, sebanyak 69 lulusan berasal dari Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, sementara 18 lainnya dari Program Studi Bahasa Inggris.

Wisuda ini menjadi yang keenam sejak STKIP Usman Safri Kutacane berdiri di bawah naungan Yayasan Anak Bangsa. Sejak berdiri, perguruan tinggi tersebut dinilai konsisten berkontribusi dalam mencetak tenaga pendidik dan sumber daya manusia di wilayah Aceh Tenggara.

Ketua Yayasan Anak Bangsa Aceh Tenggara, Dr Sunawardi MM menyatakan bahwa otoritas kampus terus berbenah secara kreatif dan inovatif dalam menghadapi tantangan zaman. Menurut dia, ilmu yang diperoleh dalam proses pembelajaran tidak boleh berhenti, melainkan harus bersifat transformatif dalam merespons tantangan global.

Sementara itu, Ketua STKIP Usman Safri Kutacane, Ati Rosmiati, berharap pesan yang disampaikan dalam orasi ilmiah tersebut dapat menjadi pegangan para lulusan dalam mengabdikan ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Ia menekankan pentingnya peran alumni sebagai agen perubahan, khususnya di daerah.

Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara turut memberikan apresiasi atas kontribusi STKIP Usman Safri Kutacane dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di daerah.

Pemerintah daerah berharap sinergi antara perguruan tinggi dan para pemangku kepentingan terus diperkuat demi pembangunan pendidikan yang berkelanjutan. [ ]Kutacane — Ketua Program Studi S3 Studi Islam Pascasarjana UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof Dr H Syamsul Rijal BA MAg, menegaskan bahwa perguruan tinggi tidak boleh direduksi hanya sebagai tempat mencetak ijazah. Pendidikan tinggi, menurutnya, harus melahirkan lulusan yang memiliki tanggung jawab sosial, integritas intelektual, serta keberanian menghadirkan perubahan nyata di tengah masyarakat.
Penegasan tersebut disampaikan Prof Syamsul Rijal dalam orasi ilmiah pada Wisuda STKIP Usman Safri Kutacane, Aceh Tenggara, Sabtu (17/1/2026). Di hadapan sivitas akademika, orang tua wisudawan, serta tamu undangan, ia mengingatkan bahwa esensi pendidikan tidak berhenti pada capaian akademik formal semata.
“Kampus harus menjadi ruang lahirnya pemikiran kritis, bukan sekadar tempat mengumpulkan ijazah,” ujar Syamsul Rijal dalam orasinya.
Sebagai putra asli Aceh Tenggara, Syamsul Rijal menekankan bahwa pendidikan sejatinya merupakan proses panjang pembentukan karakter, cara berpikir kritis, serta integritas moral dan intelektual. Ia menilai lulusan perguruan tinggi tidak cukup hanya unggul secara akademik, tetapi juga harus peka terhadap persoalan sosial di lingkungannya.
Menurut dia, gelar akademik hanya akan bermakna apabila disertai kesadaran etis dan tanggung jawab sosial. Lulusan perguruan tinggi diharapkan mampu membaca persoalan di masyarakat dan terlibat aktif dalam mencari solusi, bukan justru menjauh dari realitas sosial.
“Pendidikan harus membekali manusia dengan pengetahuan, keterampilan, dan karakter. Dari situlah lahir prestasi pribadi sekaligus kontribusi nyata bagi masyarakat,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Syamsul Rijal juga menyoroti pentingnya membangun budaya akademik yang sehat di lingkungan kampus. Ia menekankan perlunya tradisi membaca yang kuat, riset berbasis data, serta sikap rendah hati secara intelektual sebagai fondasi utama kehidupan akademik.
Ia mengingatkan bahwa budaya merasa paling tahu tanpa kompetensi dan riset yang memadai berpotensi merusak iklim akademik. Kampus, tegasnya, seharusnya menjadi ruang dialog ilmiah yang terbuka, bukan tempat reproduksi klaim kebenaran tanpa dasar keilmuan.
Lebih lanjut, Syamsul Rijal mendorong integrasi ilmu pengetahuan modern dengan nilai etika dan spiritual. Integrasi tersebut dinilai penting dalam membangun peradaban yang berkeadaban, terutama di tengah tantangan global yang semakin kompleks.
Menurutnya, pendidikan memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang adaptif terhadap perubahan global, namun tetap berakar kuat pada nilai moral, budaya, dan kearifan lokal. Tanpa fondasi etika dan spiritual, kemajuan ilmu pengetahuan berisiko kehilangan arah.
Wisuda STKIP Usman Safri Kutacane tahun akademik 2025/2026 ini meluluskan 87 mahasiswa, terdiri dari 69 lulusan Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia serta 18 lulusan Program Studi Bahasa Inggris. Wisuda tersebut merupakan yang keenam sejak STKIP Usman Safri Kutacane berdiri di bawah naungan Yayasan Anak Bangsa.
Ketua Yayasan Anak Bangsa Aceh Tenggara, Dr Sunawardi MM, menyatakan bahwa pihaknya terus mendorong pengelolaan kampus yang kreatif dan inovatif dalam menghadapi tantangan zaman. Menurutnya, ilmu yang diperoleh mahasiswa tidak boleh berhenti pada bangku kuliah, tetapi harus bersifat transformatif dalam merespons tantangan global.
Sementara itu, Ketua STKIP Usman Safri Kutacane, Ati Rosmiati, berharap pesan yang disampaikan dalam orasi ilmiah tersebut dapat menjadi pegangan para lulusan dalam mengabdikan ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Ia menekankan pentingnya peran alumni sebagai agen perubahan, khususnya di daerah.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara turut memberikan apresiasi atas kontribusi STKIP Usman Safri Kutacane dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Pemerintah daerah berharap sinergi antara perguruan tinggi dan para pemangku kepentingan terus diperkuat demi pembangunan pendidikan yang berkelanjutan.[]

Editor : Yurisman
inisiatifberdampak
Tutup