HUT RI Ke 80

Peran Jurnalis dalam Melestarikan Bahasa

Foto dokpri.

Edukasi bahasa secara tidak langsung juga menjadi tugas jurnalisme. Konten berita yang menggunakan kalimat efektif, diksi tepat, dan struktur logis dapat menjadi model bagi masyarakat. Sebaliknya, penggunaan bahasa hiperbolis atau jargon eksklusif berisiko menciptakan “polusi bahasa” yang mengganggu komunikasi. Contoh nyata adalah maraknya istilah asing seperti lockdown, LOL, Ghosting, OMG atau hoax yang sering digunakan tanpa adaptasi. Jurnalis dituntut untuk menerjemahkan atau memberikan penjelasan tambahan tanpa mengorbankan akurasi informasi.

Tantangan terbesar muncul dari tekanan dunia digital. Platform seperti X (–dulu twitter) atau TikTok mendorong penggunaan bahasa singkat, informal, dan penuh singkatan. Di satu sisi, jurnalis perlu mengakomodasi kebiasaan audiens digital, di sisi lain, mereka harus mempertahankan integritas bahasa. Solusinya terletak pada pendekatan diferensiasi, menjaga formalitas di media cetak atau portal berita resmi, sementara di media sosial, fleksibilitas bisa diterapkan dengan batasan etis. Misalnya, menggunakan hashtag kreatif tanpa menghilangkan kaidah penulisan yang benar.

Kepentingan komersial juga kerap berbenturan dengan pelestarian bahasa. Iklan dan konten hiburan sering mengandalkan bahasa tidak baku untuk menarik perhatian. Di sini, jurnalis harus tegas menjaga batas antara konten informatif dan hiburan. Kolom opini atau artikel features mungkin lebih lentur, tetapi pemberitaan hard news harus tetap berpegang pada pedoman bahasa baku seperti Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia (PUEBI).

Strategi pelestarian bahasa dalam jurnalisme memerlukan kolaborasi multidisiplin. Pertama, pelatihan kebahasaan rutin bagi jurnalis, seperti yang diterapkan BBC melalui Style Guide ketat mereka, dapat meningkatkan kesadaran akan pentingnya bahasa baku.

Kedua, kerja sama dengan ahli bahasa atau lembaga seperti Pusat Bahasa diperlukan untuk memverifikasi istilah baru atau menyarikan kata serapan.

Ketiga, proses fact-checking harus mencakup pengecekan aspek linguistik—mulai dari ejaan hingga kesesuaian konteks. Yang tak kalah penting adalah peran media sebagai agen edukasi. Rubrik khusus tentang kebahasaan, seperti kolom “Bahasa Kita” di harian Kompas, bisa menjadi ruang dialog untuk mengangkat sejarah kata, mendiskusikan kesalahan umum, atau memperkenalkan istilah daerah. Pendekatan ini tidak hanya melestarikan bahasa, tetapi juga membangun kesadaran publik akan nilai linguistik sebagai bagian dari identitas kolektif.

Editor : Redaksi
inisiatifberdampak
Tutup