Patriark Latin Yerusalem Serukan Harapan dan Perdamaian di Hari Natal

Kardinal Pierbattista Pizzaballa. [Foto: ANTARA/Anadolu]
Ringkasan Berita
  • Patriark Latin Yerusalem menyebut Gaza dan Bethlehem membawa pesan keteguhan dan harapan di tengah kehancuran akibat agresi Israel.
  • Lebih dari 71 ribu warga Palestina tewas dan ratusan ribu lainnya terluka sejak Oktober 2023.
  • Natal di Tanah Suci dimaknai sebagai simbol keyakinan hidup dan perdamaian yang lebih kuat dari kehancuran.

Inisiatif Logo, Bethlehem — Patriark Latin Yerusalem, Kardinal Pierbattista Pizzaballa, menyampaikan pesan kuat tentang ketahanan dan harapan yang tetap hidup di Jalur Gaza meski wilayah tersebut luluh lantak akibat agresi Zionis Israel yang telah berlangsung selama dua tahun terakhir.

“Hari ini, hati kami bersama Gaza yang luluh lantak,” ujar Pizzaballa saat tiba di Bethlehem, Tepi Barat, untuk menghadiri Misa Malam Natal, Rabu.

Menurutnya, di tengah kehancuran yang meluas, masyarakat Gaza masih menunjukkan semangat hidup dan keteguhan yang luar biasa.

“Meski dengan semua yang terjadi, masyarakatnya masih punya semangat hidup, semangat bersukacita, dan keengganan menyerah begitu saja,” ucapnya.

Pizzaballa meyakini, seperti halnya masyarakat Bethlehem, warga Gaza akan bangkit dan membangun kembali kehidupan mereka dari puing-puing kehancuran.

“Kita akan merayakan di Gaza dan Bethlehem. Kita akan terus merayakannya setiap hari dan kembali untuk membangun lagi dari awal,” tuturnya.

Sejak Oktober 2023, agresi Zionis Israel telah menewaskan lebih dari 71.000 warga Palestina di Jalur Gaza, sebagian besar perempuan dan anak-anak. Selain itu, sedikitnya 171.000 orang lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan yang terus berlangsung.

Kekerasan juga meluas ke Tepi Barat. Dalam periode yang sama, pasukan Zionis dan pemukim ilegal dilaporkan membunuh sedikitnya 1.103 warga Palestina dan melukai hampir 11.000 orang lainnya.

Meski demikian, Gaza dan Bethlehem, menurut Pizzaballa, tetap menyuarakan pesan keteguhan dan harapan bagi dunia. Ia menekankan bahwa keyakinan terhadap kehidupan dan perdamaian jauh lebih kuat dibandingkan kehancuran yang ditinggalkan perang.

“Hari ini menjadi Natal yang sejati di Bethlehem, dan pesan dari Bethlehem dan tanah Suci menyebar ke seluruh dunia,” kata Kardinal Pizzaballa.

Di sisi lain, perayaan Natal tahun ini berlangsung dalam suasana pembatasan ketat. Otoritas Zionis Israel pada Rabu melarang Wakil Presiden Palestina, Hussein Al-Sheikh, menghadiri Misa Malam Natal di Gereja Kelahiran Bethlehem.

Bethlehem sendiri merupakan kota suci yang dihormati sebagai tempat kelahiran Yesus Kristus dan menjadi tujuan ziarah utama umat Kristen setiap bulan Desember. Gereja Kelahiran, yang dibangun di atas gua yang diyakini sebagai tempat Maria melahirkan Yesus, biasanya dipadati peziarah dari berbagai negara dalam perayaan Natal.

Namun di tengah konflik berkepanjangan, Natal di Tanah Suci tahun ini menjadi simbol keteguhan iman, solidaritas, dan harapan akan perdamaian yang terus dinantikan dunia.[]

Editor : Ikbal Fanika
inisiatifberdampak
Tutup