Objek Wisata Sabang Sepi Saat Nataru 2026, Turis Malaysia Jadi Penopang
- Kunjungan wisatawan domestik ke Sabang merosot tajam saat libur Tahun Baru 2026 akibat bencana alam di daratan Aceh.
- Ketua Pokdarwis Sabang mencatat jumlah wisatawan harian turun dari 600–1.000 orang menjadi sekitar 100 orang per hari.
- Di tengah penurunan wisatawan lokal, kunjungan turis Malaysia tetap stabil dan memberi harapan bagi pariwisata Sabang.
, Sabang — Momentum libur Tahun Baru 2026 menghadirkan pemandangan kontras di Kota Sabang. Sejumlah objek wisata unggulan yang biasanya dipadati wisatawan domestik justru tampak lengang. Kondisi ini dipicu rentetan bencana alam yang melanda wilayah daratan Aceh dalam beberapa waktu terakhir.
Di tengah lesunya kunjungan wisatawan lokal, segmen wisatawan mancanegara justru menunjukkan tren berbeda. Wisatawan asal Malaysia tercatat masih datang secara stabil dan memberikan harapan bagi sektor pariwisata di wilayah paling barat Indonesia tersebut.
Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Sabang, Tarmizi, menyebutkan bahwa situasi libur Tahun Baru kali ini sangat kontras dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika pada periode Natal dan Tahun Baru (Nataru) biasanya kunjungan harian bisa mencapai 600 hingga 1.000 orang, kini jumlah wisatawan merosot tajam.
“Tahun ini memang minim sekali tamu dari luar. Biasanya wisatawan dari Sumatera Utara dan Riau ramai berkunjung, namun saat ini akses menyeberang terhambat kondisi bencana di daratan. Banyak juga yang memilih tidak bepergian untuk menghormati saudara-saudara kita yang sedang tertimpa musibah,” ujar Tarmizi, Jumat (2/1/2026).
Menurut Tarmizi, faktor psikologis dan empati masyarakat turut memengaruhi minat berwisata. Banyak calon wisatawan memilih menunda perjalanan sebagai bentuk kepedulian terhadap korban bencana di wilayah daratan Aceh.
Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut bersifat sementara. Pemulihan sektor pariwisata Sabang diperkirakan akan kembali terasa pada momentum libur besar berikutnya, khususnya menjelang Lebaran Idulfitri.
“Biasanya pergerakan wisata itu baru kembali terasa saat Lebaran. Kami berharap kondisi daratan segera pulih agar arus wisatawan bisa normal kembali,” kata Tarmizi.
Sementara itu, kondisi berbeda terlihat pada wisatawan mancanegara, terutama dari Malaysia. Salah seorang agen travel asal Malaysia, Amira Izwana, yang telah menetap selama 10 tahun di Aceh, menyampaikan bahwa kunjungan turis dari negeri jiran relatif stabil dan tidak terlalu terdampak isu bencana di daratan Aceh.
Ia mengungkapkan masih memiliki sejumlah jadwal kunjungan grup wisata Malaysia ke Sabang hingga akhir Januari 2026.
“Untuk wisatawan dari Malaysia masih stabil. Kami masih memiliki banyak grup yang dijadwalkan datang hingga akhir Januari nanti. Minat warga Malaysia ke Sabang tetap tinggi apalagi dengan adanya atraksi seperti melihat lumba-lumba (dolphin trip),” jelas Amira.
Amira juga mengapresiasi berbagai peningkatan fasilitas pariwisata di Sabang, mulai dari pelayanan kapal hingga kebersihan kawasan wisata. Namun ia mengakui suasana di destinasi populer seperti Pulau Rubiah kini jauh lebih sepi dibandingkan tahun lalu.
“Perbedaan tahun lalu dengan sekarang sangat terasa, terutama perbaikan dari segi pelayanan kapal dan bot,” tambahnya.
Sepinya objek wisata Sabang selama libur Tahun Baru 2026 menjadi cerminan empati publik terhadap musibah yang melanda daratan Aceh. Di saat yang sama, stabilnya kunjungan wisatawan mancanegara menghadirkan secercah harapan bagi keberlanjutan sektor pariwisata Sabang ke depan.[]
