HUT RI Ke 80

Menggali Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi dan Sastra Aceh

Muhammad Johan, S.Pd., M.Pd. (Dokpri).

Salah satu praktik unik dalam pendidikan akhlak di Aceh adalah penggunaan panggilan positif seperti “aneuk metuah” (anak yang bertuah) atau “boh hate loen” (buah hatiku) kepada anak yang baru saja melakukan kesalahan. Panggilan ini bukan sekadar bentuk kasih sayang, tetapi juga mengandung filosofi mendalam sebagai doa agar anak tidak mengulangi kesalahannya. Pendekatan ini menunjukkan bagaimana budaya lokal Aceh, yang diwarnai oleh nilai-nilai Islam, mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang penuh kasih sayang dan mendukung perkembangan moral anak.

Keberagaman budaya dalam tutur kata dan perilaku menjadi filosofi hidup masyarakat Aceh. Selain menggunakan bahasa yang lembut, mereka juga memanfaatkan seni seperti musik Islami dan sastra untuk mengarahkan anak-anak dan lingkungan ke arah yang lebih baik.

Sastra Aceh, yang telah berkembang sejak abad ke-9, menjadi salah satu medium penting dalam menyampaikan nilai-nilai pendidikan dan moral. Meskipun sejarah sastra Aceh tidak banyak tercatat secara detail, tradisi ini terus bertahan dan menjadi bagian dari identitas budaya yang perlu dilestarikan.

Panggilan seperti “aneuk metuah” atau “sayang loen” tidak hanya memperkuat hubungan emosional antara orang tua dan anak, tetapi juga memperkenalkan identitas budaya kepada generasi muda. Nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam tradisi ini perlu dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang agar budaya Aceh tidak luntur oleh arus modernisasi.

Peran orang tua, guru, teungku (ustaz) pengajian, dan seluruh masyarakat Aceh sangat penting dalam melestarikan budaya ini. Dengan demikian, pendidikan berbasis nilai-nilai Islam dan kearifan lokal dapat menjadi benteng yang kokoh dalam menghadapi tantangan zaman, sekaligus menjaga kelestarian budaya dan identitas masyarakat Aceh.

Dalam konteks globalisasi yang semakin pesat, pendidikan yang mengakar pada nilai-nilai Islam dan kearifan lokal seperti yang dipraktikkan masyarakat Aceh menjadi solusi efektif untuk membentengi generasi muda dari pengaruh negatif modernisasi. Melalui pendekatan yang penuh kasih sayang dan berlandaskan nilai-nilai spiritual, kita dapat menciptakan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berakhlak mulia dan berbudi pekerti luhur. Inilah esensi pendidikan sejati yang mampu melahirkan peradaban yang berkelanjutan.[]

*Penulis adalah Kepala Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 2 Seunuddon, Aceh Utara.

inisiatifberdampak
Tutup