HUT RI Ke 80

Menggali Nilai-Nilai Pendidikan Islam dalam Tradisi dan Sastra Aceh

Muhammad Johan, S.Pd., M.Pd. (Dokpri).

*Oleh: Muhammad Johan, S.Pd., M.Pd

INISIATIF.CO – Pendidikan islami adalah sarana penting dalam menyebarluaskan nilai-nilai ajaran agama, sekaligus menjadi jembatan transformasi ilmu pengetahuan yang melahirkan kebudayaan dan peradaban manusia. Di era modern ini, umat Islam dihadapkan pada tantangan besar yang ditimbulkan oleh modernisasi, kemajuan teknologi, dan infiltrasi budaya asing.

Salah satu manifestasi tantangan ini terlihat dalam maraknya tayangan televisi yang menyajikan hiburan, seringkali memuat konten yang kurang mendidik dan bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Dalam menghadapi realitas ini, pendidikan berbasis nilai-nilai Islam menjadi kebutuhan mendesak untuk mengembalikan perilaku individu kepada ajaran agama yang luhur dalam kehidupan sehari-hari.

Nilai pendidikan memiliki kekuatan untuk membentuk watak dan karakter seseorang. Ia dapat mengarahkan individu ke arah yang lebih baik atau sebaliknya, tergantung pada nilai-nilai yang ditanamkan. Akhlak dan karakter yang berorientasi pada nilai spiritual, kemanusiaan, dan lingkungan merupakan unsur yang telah melekat dalam kehidupan manusia sejak zaman dahulu. Pendidikan, dalam hal ini, tidak hanya berfungsi sebagai proses transfer ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sarana untuk menciptakan generasi yang berkarakter dan berbudi pekerti luhur. Nilai-nilai pendidikan yang dijiwai oleh ajaran Islam menjadi kunci dalam membangun peradaban yang berlandaskan pada moralitas dan spiritualitas.

Masyarakat Aceh, yang dikenal sebagai Serambi Makkah, merupakan contoh nyata bagaimana nilai-nilai syariat Islam terintegrasi dalam kehidupan sehari-hari. Qanun Aceh pada masa Iskandar Muda menjadi landasan bagi adat istiadat dan budaya yang kental dengan nuansa Islam.

Tradisi orang tua di Aceh dalam memberikan pendidikan akhlak kepada anak-anaknya melalui pesan-pesan seperti “Beu metuah” (jadilah bertuah) atau “Meunyoe jeut tapeulaku boh labu jeut ke asoe kaya. Meunyoe hanjeut tapeulaku aneuk teungku jeut keu beulaga” (jika bisa diarahkan, labu bisa menjadi kari. Jika tidak bisa diarahkan, anak teungku bisa menjadi bajingan) –mencerminkan kearifan lokal yang sarat dengan nilai-nilai Islam. Pesan-pesan ini tidak hanya mengandung nasihat, tetapi juga doa dan harapan agar anak-anak tumbuh menjadi individu yang berakhlak mulia.

inisiatifberdampak
Tutup