LPG dan Solar Langka di Abdya, Kalapas Wanti-wanti Ganggu Layanan Publik
, Blangpidie — Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Kelas II B Blangpidie, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Akhmad Heru Setiawan, mengungkapkan kondisi kelangkaan energi dan kenaikan harga bahan pokok yang mulai berdampak luas di daerah tersebut. Meski Lapas tidak terdampak langsung, efek domino dari situasi itu dinilai cukup serius.
“Minyak solar sekarang sudah antre seperti ular, LPG juga mulai langka, sementara harga bahan makanan di pajak naik. Kami memang tidak terdampak langsung, tapi efeknya parah,” ujar Akhmad Heru Setiawan, Senin (15/12/2025).
Menurut Heru, kelangkaan LPG dan solar menjadi perhatian serius pihaknya karena berkaitan langsung dengan operasional lembaga pemasyarakatan. Ia menyebut telah mengeluarkan peringatan internal untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk.
“Di Lapas sudah kami warning. LPG itu untuk memasak kebutuhan warga binaan, sementara solar sangat vital untuk genset,” katanya.
Heru menambahkan, hingga kini belum terlihat langkah kebijakan yang jelas dari pemerintah daerah untuk merespons situasi tersebut. Padahal, menurut dia, dampak kelangkaan energi dan kenaikan harga kebutuhan pokok sudah dirasakan lintas sektor, tidak hanya oleh masyarakat umum, tetapi juga oleh lembaga pelayanan publik.
“Sejauh ini belum ada kebijakan daerah yang benar-benar terlihat untuk mengatasi kondisi ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, genset menjadi penopang utama ketika terjadi pemadaman listrik, terutama untuk menjaga keamanan dan layanan dasar di dalam lapas. Jika pasokan energi terganggu, kata dia, dampaknya tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyangkut stabilitas dan keselamatan.
Situasi ini, menurut Heru, mencerminkan tekanan yang dirasakan masyarakat secara lebih luas. Kelangkaan energi dan kenaikan harga kebutuhan pokok bukan sekadar persoalan distribusi, tetapi berpotensi memicu masalah sosial jika tidak segera direspons secara serius oleh pihak terkait.
Ia berharap pemerintah daerah bersama instansi berwenang segera mengambil langkah konkret untuk memastikan ketersediaan energi dan stabilitas harga, terutama di daerah-daerah yang memiliki keterbatasan akses seperti Aceh Barat Daya.[]
