Listrik Padam, Akal Jangan Ikut Padam

Ilustrasi. [net.]

Inisiatif Logo Di tengah banjir bandang yang merendam sejumlah kabupaten/kota di Aceh, listrik padam menjadi keluhan yang paling cepat muncul di ruang publik. Grup WhatsApp riuh, media sosial penuh gerutu, bahkan sebagian warganet menuding PLN sebagai pihak paling bersalah.

Rasanya wajar, gelap memicu resah, hening menumbuhkan emosi. Namun apakah tudingan itu tepat? Mari jernihkan pandangan.

Kondisi lapangan menunjukkan bahwa keadaan kelistrikan Aceh bukan berhenti karena kesalahan operasional, melainkan kerusakan fisik akibat bencana. Hingga Kamis (27/11/2025), PLN UID Aceh mencatat 9 tower transmisi 150 kV roboh dan 3 mengalami kerusakan berat di wilayah Bireuen, wilayah yang menjadi salah satu jalur utama distribusi daya.

Padahal, sehari sebelumnya hanya lima tower tumbang, artinya situasi memburuk bukan karena kelalaian, tetapi karena daya rusak alam yang terus meningkat.

Bayangkan bekerja di medan yang sebagian tak bisa dijangkau, dengan akses putus, komunikasi terputus, dan air bah yang tak berhenti naik.

Seperti disampaikan Manager Komunikasi dan TJSL PLN UID Aceh, Lukman Hakim, tim di lapangan bahkan lost contact dengan beberapa unit di Aceh Tengah. Apa yang bisa dilakukan jika jalan terendam, jaringan mati, alat berat tak bisa lewat, dan cuaca tak bersahabat? Tentu tidak ada teknologi yang bisa melawan air berarus deras yang merobohkan menara setinggi belasan meter.

Namun di tengah keterbatasan itu, PLN tidak menyerah. Mereka mengirim empat set power emergency melalui pesawat AirPods dengan dukungan ODGAT TNI AU. Ini bukan upaya biasa, ini operasi darurat. Setiap genset yang diterbangkan bukan hanya mesin, tetapi harapan. Mereka yang bekerja di lapangan bukan robot, tetapi manusia yang tetap berjalan meski kakinya tenggelam lumpur.

Kita punya hak untuk merasa gelap itu menyulitkan. Tapi kita juga punya kewajiban untuk adil melihat keadaan. Jika bencana yang meruntuhkan infrastruktur, mengapa PLN yang harus menanggung semua caci. Artikel ini bukan untuk mengkultuskan PLN, tapi untuk mengajak publik menggunakan logika serta empati. Kita bisa menuntut perbaikan, meminta percepatan, bahkan mengkritik bila ada kelalaian, tetapi kritik harus berdiri di atas fakta, bukan amarah sesaat.

Hari ini Aceh butuh dua hal, pemulihan dan kesadaran bersama. Pemulihan dikerjakan petugas yang belum tidur berhari-hari. Kesadaran publik adalah tugas kita semua, agar tidak menambah beban mereka yang sedang menegakkan kembali tiang-tiang listrik di bawah hujan dan lumpur.

Maka izinkan kita berdoa sejenak, untuk mereka yang sedang berjuang di tengah banjir. Agar harapan terang kembali menyala, bukan hanya di rumah kita, tapi juga di pikiran kita. Karena bencana alam telah memutus arus, jangan biarkan prasangka memutus akal sehat.[]

Editor : Yurisman
inisiatifberdampak
Tutup