HUT RI Ke 80

Kemenag Rumuskan Strategi Dongkrak Mutu PTKI Swasta

Perguruan Tinggi Islam Swasta.

INISIATIF.CO, Jakarta – Kementerian Agama tengah merumuskan strategi untuk mendongkrak mutu Perguruan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Swasta. Hal ini dibahas bersama dalam Webinar ‘IKRAR PTKI’ yang mengangkat tema “Penguatan PTKIS”.Webinar ini diselenggarakan Direktorat Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam (PTKI) Ditjen Pendidikan Islam, Selasa (11/3/2025).

Hadir, Dirjen Pendidikan Islam, Suyitno, Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam, Sahiron, Penasihat DWP Kemenag RI, Helmi Nasaruddin Umar, dan Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ahmad Thib Raya.

Dirjen Pendis Suyitno mengungkap peran dan kontribusi besar PTKI Swasta terhadap dunia pendidikan Islam di Indonesia. Oleh sebab itu, perlu ada grand desain pengembangan tata kelola PTKIS di berbagai aspek.

“Kita punya 800 lebih PTKIS, 800 lebih ini menggambarkan betapa besarnya kontribusi APK (Angka Partisipasi Kasar) yang telah diperankan dimainkan teman-teman pimpinan PTKIS untuk turut serta memberikan afirmasi pendidikan tinggi bagi para peserta didik kita,” ujar Prof. Suyitno.

Suyitno mengatakan, grand desain yang dirumuskan juga harus sesuai dengan tusi dari pendidikan tinggi. Saat ini, salah satu fokus dan konsen Ditjen Pendis adalah fasilitasi akreditasi dan ini tidak bisa ditawar-tawar.

“Saya selalu yakinkan kepada teman-teman bahwa kita semua harus mengikrarkan diri bahwa akreditasi itu harga mati. Artinya kalau tidak akreditasi ya pasti mati, otomatis ajalah kira-kira gitu. Karena ini pilihanya tidak ada yang lain, ini bukan sebuah opsional tapi sebuah diksi yang merupakan kebutuhan dari sebuah institusi sebuah perguruan tinggi,” imbuhnya.

Lebih lanjut Suyitno mengungkapkan Menag berkali-kali memberikan arahan kepada Ditjen Pendis agar semua PTKI Negeri dan Swasta untuk terus melakukan riset yang berdampak bagi masyarakat. Selain itu, kata Suyitno, ada tiga hal yang menjadi konsen Menag, pertama adalah menyangkut toleransi.

“Ini berkali-kali beliau sampaikan. Penguatan toleransi melalui yang beliau sebut dengan kurikulum berbasis cinta. Mengapa ini penting, di tengah-tengah kita masih ada toleransi semu, toleransi yang berbasis kueksistnsi,” paparnya.

Editor : Ikbal Fanika
inisiatifberdampak
Tutup