Harga Jengkol di Abdya Anjlok Jadi Rp3.000/Kg, Petani Duga Ada Permainan Tengkulak
- Harga jengkol di tingkat petani Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya) anjlok hingga Rp3.000 per kilogram, jauh di bawah harga di daerah lain yang masih berkisar Rp8.000–Rp15.000 per kilogram.
- Petani menduga anjloknya harga dipicu permainan tengkulak yang menguasai jalur distribusi, sehingga posisi tawar petani semakin lemah.
- Petani meminta Pemerintah Kabupaten Abdya turun tangan menstabilkan harga, mengawasi distribusi, serta memfasilitasi pembentukan koperasi tani dan akses pasar langsung.
, Blangpidie – Petani jengkol di Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), Aceh, mengeluhkan anjloknya harga jual jengkol yang kini hanya berkisar Rp3.000 per kilogram di tingkat petani. Harga tersebut dinilai tidak wajar dan diduga kuat dipengaruhi permainan harga oleh tengkulak yang menguasai jalur distribusi.
Salah seorang petani jengkol di Kecamatan Manggeng, T. Yerli Yanda, mengatakan harga yang berlaku saat ini sangat merugikan petani. Menurut dia, pendapatan dari hasil panen bahkan tidak mampu menutup biaya perawatan kebun dan ongkos panen.
“Harga sekarang hanya Rp3.000 per kilo. Ini sangat merugikan kami sebagai petani. Biaya panen saja hampir tidak tertutup, belum lagi perawatan kebun dari awal,” ujar Yerli Yanda, Minggu (18/1/2026).
Yerli menjelaskan, jengkol merupakan komoditas tahunan yang membutuhkan waktu lama untuk berbuah. Namun, ketika musim panen tiba, harga justru jatuh drastis tanpa kejelasan mekanisme pasar yang adil.
Ia juga menyoroti perbedaan harga jengkol di Abdya dengan daerah lain. Berdasarkan informasi yang diterima petani, harga jengkol di sejumlah wilayah lain di Aceh maupun di luar provinsi masih berada di kisaran Rp8.000 hingga Rp15.000 per kilogram, tergantung kualitas dan ukuran.
“Kalau dibilang stok melimpah, di daerah lain harganya masih tinggi. Tapi di sini tiba-tiba jatuh. Kami curiga ada permainan tengkulak,” katanya.
Petani menilai lemahnya akses langsung ke pasar membuat mereka tidak memiliki pilihan selain menjual hasil panen kepada tengkulak dengan harga rendah. Kondisi tersebut diperparah dengan minimnya peran pemerintah dalam mengawasi rantai distribusi komoditas pertanian.
“Kami tidak punya pilihan lain selain menjual ke tengkulak. Kalau tidak dijual, jengkol bisa rusak. Akhirnya kami terpaksa menerima harga murah,” ujar Adnan, petani jengkol lainnya.
Ketergantungan pada tengkulak membuat posisi tawar petani semakin lemah. Tidak adanya koperasi tani yang aktif maupun sistem penjualan langsung ke pasar besar menyebabkan keuntungan lebih banyak dinikmati perantara, sementara petani hanya memperoleh hasil yang tidak sebanding dengan jerih payah mereka.
“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, petani bisa kapok merawat jengkol. Padahal ini salah satu komoditas unggulan di sini,” kata Yerli.
Para petani berharap Pemerintah Kabupaten Aceh Barat Daya segera turun tangan untuk menstabilkan harga jengkol dan menyelidiki dugaan permainan harga di lapangan. Mereka juga meminta pemerintah memfasilitasi pembentukan koperasi tani, membuka akses pasar, serta memperketat pengawasan terhadap praktik monopoli oleh tengkulak.
“Pemerintah jangan hanya fokus pada padi dan sawit. Jengkol juga menjadi sumber penghidupan banyak warga. Kalau harga dibiarkan seperti ini, petani yang paling menderita,” tegas Yerli.
Anjloknya harga jengkol dinilai tidak hanya berdampak pada pendapatan petani, tetapi juga mengancam keberlanjutan ekonomi keluarga di pedesaan. Banyak petani menggantungkan hasil jengkol untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, biaya pendidikan anak, hingga modal tanam komoditas lainnya. Jika tak segera ditangani, kondisi ini dikhawatirkan akan menurunkan minat petani menanam jengkol di masa mendatang.[]
