Curahan Hati UMKM Abdya di Tengah Krisis Listrik–LPG, Hingga Singgung Minimnya Kepedulian Pemkab

Inisiatif Logo, Susoh — Pemadaman listrik total yang melanda Aceh Barat Daya (Abdya) sejak beberapa pekan terakhir tidak hanya memadamkan lampu, tetapi juga melumpuhkan denyut ekonomi warga, khususnya pelaku usaha mikro dan kecil menengah (UMKM).

Salah satunya dirasakan oleh pengusaha warung makan di Kecamatan Susoh yang mengaku usahanya nyaris tak berdaya di tengah krisis energi dan kelangkaan LPG.

Seorang pemilik warung makan di Susoh, menyampaikan kekecewaan yang bercampur harapan terhadap kepemimpinan Bupati Abdya, Safaruddin.

Ia mengatakan bahwa dirinya dan banyak pelaku UMKM sejatinya mendukung penuh sang bupati.

“Kami juga 100 persen pro Bapak Safaruddin. Kami tidak suka kalau ada yang menjelekkan beliau, dan tidak terima kalau beliau disamakan dengan bupati-bupati sebelumnya,” ujarnya, dikutip Inisiatif Logo, Senin (15/12/2025).

Ia mengaku bangga dan terharu saat Safaruddin terpilih sebagai Bupati Abdya karena besarnya harapan yang digantungkan masyarakat terhadap perubahan daerah. Namun, realitas yang terjadi belakangan justru memunculkan rasa sedih dan miris, terutama saat krisis listrik berkepanjangan tak kunjung menemukan solusi nyata.

“Melihat kenyataan sekarang, khususnya ketika terjadi kisruh listrik ini, kami sedih dan tidak menyangka kalau beliau kurang memerdulikan kami sebagai rakyat yang terkena imbas luar biasa akibat pemadaman total ini,” ujarnya.

Meski demikian, ia menegaskan harapan itu belum sepenuhnya padam.

“Tapi kami masih berharap besok akan ada kebijakan baik, besok dan besok lagi, karena sebegitu besarnya harapan kami kepada Bapak Safaruddin,” lanjutnya.

Menurutnya, kekecewaan pelaku UMKM mungkin tidak akan sedalam ini jika pemerintah daerah hadir memberikan solusi atau setidaknya menenangkan masyarakat.

“Setidaknya kalau bapak bupati memberi sedikit solusi, menenangkan, memberi arahan dan merangkul, mungkin tidak sesedih ini. Ekonomi benar-benar hancur-hancuran, pemasukan nihil, pengeluaran besar, ditambah tanggungan lain seperti kredit dan lainnya,” ungkapnya.

Ia menyebut para pelaku UMKM sangat membutuhkan arahan konkret agar tetap bisa bertahan di tengah krisis.

“Padahal kami ingin sekali Pak Safaruddin memberi arahan bagaimana jalan terbaik supaya kami yang UMKM ini masih bisa terus jualan,” ujarnya.

Kondisi di lapangan, kata dia, semakin memperberat beban usaha. Demi tetap beroperasi, mereka terpaksa membeli genset, namun situasi tak kunjung membaik.

“Kami beli genset supaya bisa jualan, malah lampu padam se-Abdya. Tidak ada stok es batu, gas susah dicari, bensin antreannya berliku. Kalau beli di penjual dadakan, harganya Masya Allah,” keluhnya.

Akibat krisis ini, aktivitas usaha nyaris lumpuh. Warungnya baru bisa beroperasi empat hari sepanjang bulan ini, sementara para pekerja mulai mengeluh karena minimnya penghasilan.

“Baru bisa jualan empat hari bulan ini, para pekerja pun sudah pada mengeluh,” katanya.

Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil dan Menengah Perindustrian dan Perdagangan, Zedi Saputra saat dihubungi, perihal apa langkah konkrit pemerintah kabupaten Abdya dalam upaya menangani krisis LPG, dan energi, yang mengancam kelangsungan pelaku UMKM di daerah itu, belum memberikan tanggapan. Hingga (Selasa, 16/12/2025) pertanyaan yang dikirim media ini masih terlihat centang dua biru.

Diketahui, sejak banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Provinsi Aceh pada akhir November lalu, masyarakat Abdya menghadapi krisis berlapis. Selain pemadaman listrik berkepanjangan, kelangkaan LPG dan antrean panjang di SPBU turut memperparah kondisi ekonomi warga. Situasi serupa juga dilaporkan terjadi di sejumlah daerah lain di Aceh.

Kondisi ini menempatkan pelaku UMKM sebagai kelompok paling rentan, di tengah tingginya biaya operasional dan minimnya kepastian kebijakan, sementara harapan mereka terhadap kehadiran pemerintah di saat krisis masih terus dinantikan.[]

Editor : Yurisman
inisiatifberdampak
Tutup