HUT RI Ke 80

Brain Rot dan Pembatasan Media Sosial pada Anak

Saiful Maarif. (Dokpri).

Bila dirunut, pemanfaatan teknologi informasi secara luas marak dilaksanakan selama kondisi pandemi covid-19 berlangsung hingga kini. Penggunaan dan anjuran untuk pemanfataan teknologi informasi diyakini menjadi obat mujarab untuk menjembatani distraksi sosial yang berlangsung. Dengan pemanfataan teknologi informasi, beragam kesenjangan diyakini dapat diatasi dan mendapat solusi.

Namun demikian, di sisi lain penggunaan gawai dalam pendidikan di kalangan anak perlu ditinjau ulang mengingat beragam efek negatifnya. Hal ini dibuktikan dengan banyak temuan di beberapa survei. Indonesia Indicator melalui riset pada tahun 2024 bertajuk Tren Kekerasan Digital pada Anak, mencatat sepanjang 1 Januari hingga 21 Juli 2024, kekerasan digital pada anak di Indonesia menjadi salah satu isu yang diperbincangkan netizen (warganet). Menurut survei ini, jumlah unggahan kekerasan digital pada anak di media sosial mencapai 24.876 unggahan dengan jumlah tanggapan mencapai 3.004.014 engagement.

Temuan Survei

Riset ini juga menunjukkan, kasus penipuan online terhadap anak menempati urutan kedua dalam top engagement netizen, dengan statistik mencapai 912.325 engagement. Yang mengejutkan, pedofilia menjadi isu kekerasan digital pada anak dengan engagement tertinggi ketiga, mencapai 145.730. Sementara itu, judi online berada di posisi keempat dengan 65.255 engagement.

Riset Indonesia Indicator ini sejalan dengan simpulan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan Komnas Perlindungan Anak (Komnas PA), yang menyebutkan bahwa tren kekerasan terhadap anak cenderung menanjak dalam lima tahun terakhir.

Pada 2019, Kominfo mencatat adanya kasus cyberbullying yang mencapai 2.000 kasus. Celakanya, hingga pertengahan tahun 2023 angkanya menyentuh lebih dari 4.000 kasus yang dapat ditemukan melalui survei mereka. Sementara itu, KPAI merekam data kasus eksploitasi seksual online yang melibatkan anak-anak juga mengalami lonjakan, yakni dari 1.200 kasus pada 2019 kemudian mencapai lebih dari 2.000 lebih kasus pada 2023.

Editor : Redaksi
inisiatifberdampak
Tutup