Bahkan Baliho Pun Wajib Tutup Aurat di Aceh
Orang Aceh tidak memaksa orang luar untuk mengadopsi keyakinannya, tetapi mengharapkan sikap saling menghormati. Sebagaimana pesan Rasulullah SAW, “Barangsiapa yang tidak mengasihi manusia, dia tidak dikasihi Allah” (HR. Tirmidzi). Inilah etika universal yang dipegang teguh orang Aceh, tegas dalam prinsip, tetapi penuh welas asih dalam pergaulan.
Poster dan baliho yang menghiasi kota dengan pesan-pesan penutupan aurat bukanlah sekadar hiasan, melainkan pengingat akan tanggung jawab bersama. Aceh ingin menunjukkan bahwa kemajuan tidak harus mengorbankan moralitas, dan modernitas bisa berjalan beriringan dengan nilai-nilai agama. Bagi mereka, syariat Islam adalah pelindung, bukan penghalang. Ia menjadi benteng yang menjaga masyarakat dari dekadensi moral tanpa menafikan hak-hak dasar manusia.
Karena itu, bagi siapapun yang berkunjung ke Aceh, bersiaplah untuk menyelami sebuah peradaban yang memadukan keteguhan iman dan keramahan budaya.
Di sini, anda akan merasakan keamanan, keteraturan, dan kehangatan masyarakat yang bangga dengan identitasnya. Aceh mengajarkan kita bahwa hidup bermartabat dimulai dari kesadaran akan batasan, bukan sebagai pembatas kebebasan, melainkan sebagai penjaga kesucian manusia. Dan dalam koridor itulah, kebahagiaan sejati ditemukan.[]